Rabu, 06 Agustus 2014

Arti Din

Kita sudah membahas Agama dari segi Bahasa Indonesia maupun Inggris, sekarang kita mencoba mengkaji secara pendekatan kebahasaan (pendekatan etimologi) dari bahasa Arab. Ya, Di dalam al-Munjid dapat kita temukan keterangan tentang arti Din sebagai berikut :
1. al-Jaza wal al-Mukafaah: (balasan dan pahala)
2. al-Qadha: (ketentuan)
3. al-Malik/al-Muluk wa as-Sulthan: (Kekuasaan)
4. al-Tadbir: (Pengaturan)
5. al-Hisab: (Perhitungan). 
Kemudian ada lagi keterangan dri H. Moenawar Chalil, kata "din" itu masdhar dari kata kerja "daana" - "yadinu". Menurut lughat, kata "din" itu mempunyai arti bermacam-macam antara lain :

Selasa, 05 Agustus 2014

Sajak Harapan dan Pembuktian

Senyum hangatku pada dunia.
Menghantam kalbu para cecurut durjana.
Mereka tertawa, mengejek, dan menghina.
Tapi aku tau bahwa diamlah yang membuat tawa mereda.

Biar saja kalian tertawa sepuasnya.
Tertawa sebusuknya yang kalian bisa.
Yang jelas itu tak akan membuatku meregang nyawa!

Bagiku Tawa kalian ibarat sebuah seruan.
Yang membuat darah mudaku bergejolak.
Menantang gahar sendirian.
Sampai Tak ada keraguan tuk bertolak.

Akan kubuktikan!

Sajak Untuk Presiden Baru Kami

Suara-suara rakyat mengiringi perjalananmu.
Suara-suara itu meramaikan kampanyemu.
Dari sabang hingga merauke kau berjalan.
Dari miangas sampai pulau rote kau mendapat dukungan.

Kau telah menuntaskan pertarungan.
Pertarungan ideologi serta kepercayaan.
Bertarung melawan bangsamu sendiri.
Berorasi menjanjikan sebuah birokrasi.

Arti Religion dan Religi

Kemarin kita sudah membahas tentang apa itu Agama dalam Bahasa Indonesia. Baik, sekarang kita akan mengupas arti agama jika ditinjau dalam segi Bahasa Asing. Religion (bahasa Inggris) maupun religie (bahasa Belanda), kedua-duanya berasal dari bahasa induk kedua bahasa tersebut yaitu bahasa Latin: relegere, to treat carrefully - menggarap secara seksama; (Cicero, De Nat, Deorum ii, 28); religare, to bind together - menyatukan (Lactantius, Instif. Div. iv, 28) atau reiligere, to recover - bebas sembuh (Agustine, De Cevitate Dei. c. 3).
Tidak ada satu definisi tentang religion yang dapat diterima secara umum. Para filsuf, para sosiolog, para psikolog, para teolog, dan lain-lain telah merumuskan definisi tentang religion menurut caranya masing-masing dan sesuai pula dengan tujuan masing-masing.
  • Sebagian filsuf beranggapan bahwa religion itu "superstitious structure of incoherent metaphysical notions" (Struktur takhayul faham metafisis yang tidak beraturan)
  • Sebagian ahli sosiologi lebih senang menyebut religion dengan "colective expression of human values" (ekspresi kolektif nilai-nilai manusiawi)
  • Para pengikut Karl Marx mendefinisikan religion dengan "the opiate of the people" (candu bagi rakyat);\

Senin, 04 Agustus 2014

Arti Agama

Sebenarnya tidaklah harus kita meributkan apa itu definisi agama, apa itu agama. Yang kita harus lakukan adalah menjalankan agama itu sendiri sebagaimana kepercayaan kita masing-masing. Baik itu berbeda agama ataupun berbeda sekte daripada ruang suatu agama sendiri. Tetapi akan lebih afdhal akan lebih utama jika mengetahui apa sebenarnya maksud agama itu sendiri. Tetapi seperti tulisan saya sebelumnya akankah lebih baik jika kita berikhtiar mencari arti Agama itu sendiri dari beberapa aspek. Dan sekarang kita akan mencoba berikhtiar mengetahui asal mula sebutan "Agama" dalam bahasa Indonesia. Yang Arab sangat familiar yaitu "Din", dan dalam bahasa Inggris disebut "Religion".
Kerapkali kita membaca dan mendengarkan orang mencari dan menerangkan arti Agama dari segi etimologi, bahwa Agama itu berasal dari dua kata: a=tidak dan gama=kacau. Apakah saudara-saudara tahu definisi secara etimologi ini dari siapa? jangan hanya so mengetahui a-gama=tidak kacau tanpa landasan ilmiah sama sekali. Baiklah, dari sumber yang saya baca dalam buku karangan H.Endang Saifuddin Anshari M.A, Agama dan Kebudayaan beliau menyatakan bahwa landasan definisi secara etimologi ini berasal dari Ustadz Fachroeddin Al-Kahiri. Pada bulan September 1937, Fachroeddin Al-Kahiri telah mengadakan pidato-pidato di muka corong V.O.R.L (radio di bandung) dengan judul "Islam menurut Faham Filosofi".

Mencari Arti Agama

Didalam buku H. Endang Saifuddin Anshari M.A, yaitu Agama dan Kebudayaan, disana menarik untuk kita kaji dalam subjudul Agama. Memang benar Agama itu sendiri sulit untuk diberikan arti yang pas dan arti yang dapat diterima. "Barangkali tidak ada kata yang paling sulit diberi pengertian dan definisi selain dari kata "Agama",". Demikian Prof. Dr A. Mukti Ali memulai ceramahnya berjudul "Agama, Universitas dan Pembangunan" di IKIP Bandung 4 Desember 1971. Selanjutnya dikatakannya :
"Paling sedikit ada tiga alasan untuk hal ini. Pertama, karena pengalaman agama itu adalah soal batini dan subyektif, juga sangat individualistis. Alasan Kedua ialah, bahwa barangkali tidak ada orang yang berbicara begitu bersemangat dan emosionil lebih daripada membicarakan agama, maka dalam membahas tentang arti agama selalu emosi yang kuat sekali hingga sulit memberikan arti kalimat agama itu.

Mahasiswa yang Berjiwa Santri

Ada beberapa permasalahan dari kajian kita sekarang ini. Ya, para pencari ilmu, kita sudah mengetahuinya, ada yang memang fokus mengkaji ilmu agama seperti sering kita sebut santri. Dan ada pula yang fokus di bidang pengetahuan umumnya dan seringkali mengungkapkan sebuah istilah bahwa santri itu kolot. Disekolah disebut siswa atau pelajar, dan di perguruan tinggi disebut Mahasiswa.
Sebenarnya siapa yang salah? Santri yang emoh mengenyam pendidikan akademis ataukah para Mahasiswa yang gila ilmu umum dan melupakan ilmu agama? Ya, saya adalah salah satu mahasiswa di Universitas Islam Negeri. Mayoritas para mahasiswa disini biasanya jebolan pondok pesantren, ya termasuk saya. Saya adalah santri yang sudi melanjutkan pendidikan saya pada salah satu perguruan tinggi. Walaupun tidak menutup kemungkinan adanya mahasiswa dari latar belakang sekolah-sekolah umum.

Pemuda Penerus Bangsa. Teruslah Belajar!

Betapa sangat sedikit pemuda penerus Bangsa ini yang serius untuk belajar. Apakah ada yang salah dengan pendidikan kita di Indonesia ini? dari beberapa survei yang saya lakukan sendiri. Kebanyakan, ya mayoritas para pemuda Bangsa hanya mementingkan pekerjaan yang berujung materi saja. Sungguh sangat mencengangkan batin saya melihat pemandangan seperti ini. Pekerjaan yang layak gaji yang besar, mempunyai paradigma buat apa sekolah tinggi-tinggi toh lulus SMA juga sudah dapat pekerjaan. Ada lagi yang mengatakan ah saya kuliah hanya ingin mendapatkan gelar agar mudah melamar kerja. Seperti inilah pemandangan realita sekarang di Negeri kita.
Lalu siapakah yang patut disalahkan? Pemerintah? Depdiknas? Kurikulum atau apa? Oh, tentu ini adalah kesalahan diri pribadi masing-masing pemuda di Negeri kita. Pemikiran mereka semua dibuntukan oleh materi belaka. Hidup hanya untuk kepuasan materi, kesenangan jasmani.

Minggu, 03 Agustus 2014

Pengertian Filsafat II

Filsafat seperti sudah sangat sering kita dengar dan kita baca adalah berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia, yang artinya cinta kebijaksanaan. Dan paparan saya yang lalu sudah menjelaskan definisi (batasan) kajian filsafat itu sendiri. Bisa anda lihat di sini. Kita juga sudah mengenal siapakah filsuf teragung seantero jagat raya ini. Ya, dialah Nabi Agung kita Muhammad SAW. Bukanlah Socrates, Plato, Aristoteles, dan lain sebagainya.
Disini saya akan memaparkan ulasan dari buku Drs. H.A. Dardiri, beliau melihat filsafat dari dua segi. Yaitu, Pertama, filsafat dilihat dari segi pengetahuan, dan filsafat dilihat dari segi aktivitas budi manusia. Ya saya setuju dengan pendapat ini. Bahwa agar tidak rancu kita memahami apa itu filsafat maka kita harus memetakan permasalahan satu persatu. Filsafat itu adalah pengetahuan, filsafat juga adalah aktivitas budi manusia. Dilihat dari segi pengetahuan, filsafat adalah jenis pengetahuan yang berusaha mencari hakikat dari segala sesuatu yang ada. Dan jika dilihat dari segi aktivitas budi manusia, filsafat adalah suatu aktivitas budi manusia untuk secara radikal hendak mencari keterangan yang terdalam tentang segala sesuatu yang ada.

Pengertian Kebudayaan

Kali ini saya akan menulis sebuah kajian kebudayaan. Ya, kebudayaan jika dilihat dari kaca mata yang sangat luas bukanlah hanya sekedar tari daerah, kesenian daerah, bahasa dan sebagainya yang biasa disebut dengan kebudayaan daerah. Pada awalnya saya kurang begitu menyukai studi kebudayaan, tetapi setelah membaca beberapa buku yang menjelaskan secara gamblang apa itu kebudayaan merubah paradigma berfikir saya.
Baiklah kita mulai coba kaji secara perlahan. Menurut pendapat pakar ahli antropologi, dalam bukunya Pengantar Antropologi, Koentjaraningrat menjelaskan bahwa kata "kebudayaan" berasal dari sansekerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari budhi yang berarti "budi" atau "akal". Demikian ke-budaya-an itu dapat diartikan, "hal-hal yang bersangkutan dengan akal". Bahkan adapula sarjana lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya, yang berarti "daya dari budi" (Lihat buku P.J Zoetmulder, Cultuur, Oost West. Amsterdam, 1951).

Sabtu, 02 Agustus 2014

Pengertian Filsafat

Semua orang sudah mengetahui filsafat. Ya, filsafat, begitu banyak pendapat dari sekian ilmuan bahwa filsafat ada yang mengatakan adalah cabang tersendiri, runtutannya Ilmu pengetahuan, filsafat, agama. Ada lagi yang mengatakan filsafat adalah cabang dari humaniora. Memang pada dasarnya filsafat itu sangat menjemukan tetapi tanpa filsafat kita tidak akan menemukan hakekat dari segala sesuatu.
Baik kita kemukakan satu persatu. Filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophia dari kata philos atau phillen atau phila yang berarti cinta, dan dari kata sophia yang berarti kebijaksanaan, kearifan, atau pengetahuan. Jadi, philosophia berarti cinta kebijaksanaan atau kearifan atau pengetahuan. Sehingga orang yang mencintai kebijaksanaan, kearifan atau pengetahuan disebut philosophos atau filsuf.

Teori tanpa pergerakan? Enyahlah!

'Teori' dan 'prinsip' saja buat saya belum cukup. Tiap-tiap orang bisa menutup dirinya didalam kamar, dan menggerutu 'ini tidak menurut teori', 'itu tidak menurut prinsip'. Saya tidak banyak menghargakan orang yang demikian itu.  (Ir. Soekarno, Dibawah Bendera Revolusi, 1964, cet 3: hlm 299)
Inilah kutipan dari perkataan Ir.Soekarno dalam buku DBR-nya. Benar memang perkataan seperti ini, teori tanpa pergerakan sama halnya nasi tanpa lauk. Hambar. Tidak akan membuahkan hasil, tidak akan memberi perubahan. oleh sebab itu wajiblah bagi kita generasi muda membuat suatu perubahan, melakukan suatu gerakan tetapi memang harus didasari dengan teori yang relevan untuk perubahan itu sendiri. Sungguh sangat disayangkan bagi kita kaum muda hanya menggeluti teori dan prinsip-prinsip saja. Saya memakai teori ini, saya mempunyai prinsip itu, tetapi tidak melakukan suatu hal apapun.yang dilakukan secara real, secara nyata. Maka dari itu terinspirasi dari perkataan Ir.Soekarno yang memang sangat mengetuk hati saya untuk tidak selalu disibukkan dengan teori, tetapi juga pergerakan.

Jumat, 01 Agustus 2014

Muslim Sontoloyo

Islam Sontoloyo, ya, sangat menarik untuk kita bicarakan. Ketika saya sedang asyik membaca buku Dibawah Bendera Revolusi (DBR) karya Ir. Soekarno yang berisi kumpulan tulisan-tulisan beliau tentang pergerakan kebangsaan, saya menemukan satu tulisan Soekarno dalam buku tersebut yang berjudul Islam Sontoloyo. lebih jelasnya adalah satu tulisan beliau Ir. Soekarno dalam salah satu surat kabar insyaallah jika tidak salah adalah surat kabar Pandji Islam tahun 1940 yang mengkritik habis umat islam! sekali lagi umat islam bukan islam itu sendiri. Maka dari itu saya membuat judul yang terinspirasi oleh tulisan beliau dan menggantinya menjadi "Muslim Sontoloyo". Agar tidak terjadi kesalah pahaman, bahwa saya pun setuju dengan ungkapan bahwa umat islam masih banyak yang sontoloyo.
Baiklah saya tidak akan menulis ulang ungkapan-ungkapan yang dikemukakan Soekarno itu tetapi menarik garis besarnya.

DIlematika antara Ilmu Umum dan Ilmu Agama

Sungguh ironi orang yang mengatakan pendidikan kita dewasa ini telah memasuki fase sekularitas.Ya, sekularisme pemisahan antara agama dan negara, antara ilmu agama dan ilmu umum. Dampak ini membuat orang-orang seperti emoh belajar agama, atau kurikulum yang memang diberikanpun hanya sedikit. Ada lagi beberapa orang islam kolot yang katanya hanya ingin mendapatkan surga-Nya Allah bahkan enggan yang ingin mempelajari ilmu umum, pengetahuan dari barat atau ilmu-ilmu yang lain. Ah, saya disini tidak memihak kepada siapapun. Memang pada kenyataannya hal ini sudah tampak jelas di Negara kita Indonesia. Tapi sekali lagi saya tidak ingin di cap kolot juga tidak ingin bersikap liberal hanya saja saya ingin memaparkan beberapa opini terhadap permaslahan ini..
Tidak bisa dipungkiri memang peradaban Islam dulu sangatlah maju, terutama dalam kajian ilmunya. Secara tidak langsung kita umat islam telah dibutakan. Lihatlah! betapa ulama zaman dahulu tidak ada yang hanya fokus terhadap kajian agama saja. Didalam buku karangan orientalis Phillip K. Hitti History of Arabs

Mukkadimah

Reza Fauzi adalah seorang pemuda yang fakir. menulis didalam sebuah blog merupakan salah satu kegiatan untuk mengingat ilmu yang telah saya pelajari, yang telah saya baca dari berbagai buku, yang saya dengar dari beberapa orang baik itu orang tua saya sendiri, guru, ustad, sampai beliau-beliau yang menyandang gelar maha-guru, kyai dan hasil diskusi dari dengan sahabat-sahabat saya yang lain.
Saya sebelumnya memang tidak pernah menyukai menulis. tetapi benar kata pepatah, "Jika kita ingin mengenal dunia maka bacalah, jika kita ingin dikenal dunia menulislah". Tepat !! tidak salah sama sekali pepatah tersebut, Ah, tapi disini saya bukan ingin dikenal dunia. saya hanya ingin membuat catatan pribadi dari apa yang telah saya ketahui. Ah, memang naif. Reza tahu apa?? Reza mengerti apa?? hanya memang salah satu yang menggugah hati saya dari menulis catatan ini adalah ingin menyalurkan pengetahuan saya.
Ini hanyalah sebuah mukkadimah. saya tak tahu harus memulai darimana? apakah saya menulis tentang filsafat? sejarah? hukum? logika? fiqh?

Daftar Isi