Senin, 04 Agustus 2014

Arti Agama

Sebenarnya tidaklah harus kita meributkan apa itu definisi agama, apa itu agama. Yang kita harus lakukan adalah menjalankan agama itu sendiri sebagaimana kepercayaan kita masing-masing. Baik itu berbeda agama ataupun berbeda sekte daripada ruang suatu agama sendiri. Tetapi akan lebih afdhal akan lebih utama jika mengetahui apa sebenarnya maksud agama itu sendiri. Tetapi seperti tulisan saya sebelumnya akankah lebih baik jika kita berikhtiar mencari arti Agama itu sendiri dari beberapa aspek. Dan sekarang kita akan mencoba berikhtiar mengetahui asal mula sebutan "Agama" dalam bahasa Indonesia. Yang Arab sangat familiar yaitu "Din", dan dalam bahasa Inggris disebut "Religion".
Kerapkali kita membaca dan mendengarkan orang mencari dan menerangkan arti Agama dari segi etimologi, bahwa Agama itu berasal dari dua kata: a=tidak dan gama=kacau. Apakah saudara-saudara tahu definisi secara etimologi ini dari siapa? jangan hanya so mengetahui a-gama=tidak kacau tanpa landasan ilmiah sama sekali. Baiklah, dari sumber yang saya baca dalam buku karangan H.Endang Saifuddin Anshari M.A, Agama dan Kebudayaan beliau menyatakan bahwa landasan definisi secara etimologi ini berasal dari Ustadz Fachroeddin Al-Kahiri. Pada bulan September 1937, Fachroeddin Al-Kahiri telah mengadakan pidato-pidato di muka corong V.O.R.L (radio di bandung) dengan judul "Islam menurut Faham Filosofi".

Mencari Arti Agama

Didalam buku H. Endang Saifuddin Anshari M.A, yaitu Agama dan Kebudayaan, disana menarik untuk kita kaji dalam subjudul Agama. Memang benar Agama itu sendiri sulit untuk diberikan arti yang pas dan arti yang dapat diterima. "Barangkali tidak ada kata yang paling sulit diberi pengertian dan definisi selain dari kata "Agama",". Demikian Prof. Dr A. Mukti Ali memulai ceramahnya berjudul "Agama, Universitas dan Pembangunan" di IKIP Bandung 4 Desember 1971. Selanjutnya dikatakannya :
"Paling sedikit ada tiga alasan untuk hal ini. Pertama, karena pengalaman agama itu adalah soal batini dan subyektif, juga sangat individualistis. Alasan Kedua ialah, bahwa barangkali tidak ada orang yang berbicara begitu bersemangat dan emosionil lebih daripada membicarakan agama, maka dalam membahas tentang arti agama selalu emosi yang kuat sekali hingga sulit memberikan arti kalimat agama itu.

Mahasiswa yang Berjiwa Santri

Ada beberapa permasalahan dari kajian kita sekarang ini. Ya, para pencari ilmu, kita sudah mengetahuinya, ada yang memang fokus mengkaji ilmu agama seperti sering kita sebut santri. Dan ada pula yang fokus di bidang pengetahuan umumnya dan seringkali mengungkapkan sebuah istilah bahwa santri itu kolot. Disekolah disebut siswa atau pelajar, dan di perguruan tinggi disebut Mahasiswa.
Sebenarnya siapa yang salah? Santri yang emoh mengenyam pendidikan akademis ataukah para Mahasiswa yang gila ilmu umum dan melupakan ilmu agama? Ya, saya adalah salah satu mahasiswa di Universitas Islam Negeri. Mayoritas para mahasiswa disini biasanya jebolan pondok pesantren, ya termasuk saya. Saya adalah santri yang sudi melanjutkan pendidikan saya pada salah satu perguruan tinggi. Walaupun tidak menutup kemungkinan adanya mahasiswa dari latar belakang sekolah-sekolah umum.

Pemuda Penerus Bangsa. Teruslah Belajar!

Betapa sangat sedikit pemuda penerus Bangsa ini yang serius untuk belajar. Apakah ada yang salah dengan pendidikan kita di Indonesia ini? dari beberapa survei yang saya lakukan sendiri. Kebanyakan, ya mayoritas para pemuda Bangsa hanya mementingkan pekerjaan yang berujung materi saja. Sungguh sangat mencengangkan batin saya melihat pemandangan seperti ini. Pekerjaan yang layak gaji yang besar, mempunyai paradigma buat apa sekolah tinggi-tinggi toh lulus SMA juga sudah dapat pekerjaan. Ada lagi yang mengatakan ah saya kuliah hanya ingin mendapatkan gelar agar mudah melamar kerja. Seperti inilah pemandangan realita sekarang di Negeri kita.
Lalu siapakah yang patut disalahkan? Pemerintah? Depdiknas? Kurikulum atau apa? Oh, tentu ini adalah kesalahan diri pribadi masing-masing pemuda di Negeri kita. Pemikiran mereka semua dibuntukan oleh materi belaka. Hidup hanya untuk kepuasan materi, kesenangan jasmani.
 

YaSERP


blogtopsites