Jumat, 01 Agustus 2014

DIlematika antara Ilmu Umum dan Ilmu Agama

Sungguh ironi orang yang mengatakan pendidikan kita dewasa ini telah memasuki fase sekularitas.Ya, sekularisme pemisahan antara agama dan negara, antara ilmu agama dan ilmu umum. Dampak ini membuat orang-orang seperti emoh belajar agama, atau kurikulum yang memang diberikanpun hanya sedikit. Ada lagi beberapa orang islam kolot yang katanya hanya ingin mendapatkan surga-Nya Allah bahkan enggan yang ingin mempelajari ilmu umum, pengetahuan dari barat atau ilmu-ilmu yang lain. Ah, saya disini tidak memihak kepada siapapun. Memang pada kenyataannya hal ini sudah tampak jelas di Negara kita Indonesia. Tapi sekali lagi saya tidak ingin di cap kolot juga tidak ingin bersikap liberal hanya saja saya ingin memaparkan beberapa opini terhadap permaslahan ini..
Tidak bisa dipungkiri memang peradaban Islam dulu sangatlah maju, terutama dalam kajian ilmunya. Secara tidak langsung kita umat islam telah dibutakan. Lihatlah! betapa ulama zaman dahulu tidak ada yang hanya fokus terhadap kajian agama saja. Didalam buku karangan orientalis Phillip K. Hitti History of Arabs
diterangkan secara gamblang keadaan peradaban Islam, bagaimana karakteristik ilmu pengetahuannya, bagaimana keadaan seni dan arsitekturnya, keadaan geografinya dan sebagainya. Tetapi saya hanya akan fokus pada satu permasalahan, Ya! satu permasalahan yaitu tentang kajian keilmuannya. Ulama Islam zaman dahulu tidak pernah sama sekali membeda-bedakan antara ilmu agama dan ilmu umum. kita ambil beberapa contoh diantaranya Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali yang semua orang Islam pun tahu terutama kalangan pesantren. Ah betapa naifnya kita jika mengatakan Al-Ghozali adalah ulama tassawuf. Tidak! sama sekali tidak beliau adalah ulama yang mengkaji filsafat dan lain sebagainya. Lalu ada lagi Ibnu Rusyd, semua orang tahu bahwa Ibnu Rusyd adalah ulama tersohor pada zamannya. Dan mungkin kalangan pesantren mengenal kitab Fiqh lintas madzhab Bidayatul Mujtahid. Tetapi sangat naif pula jika kita tidak mengatakan Ibnu Rusyd hanya terpaku kepada pengetahuan tentang ilmu agama saja. Beliau juga menggeluti Ilmu umum lainnya.
Dari paparan sekilas diatas maka dari itu ini hanyalah sebuah contoh kecil bahwa Islam tidak pernah menghendaki pemisahan yang sangat lebar antara ilmu umum dan ilmu agama. Justru ulama-ulama terdahulu itu akan bertambah Imannya dengan ilmu-ilmu umum yang mereka peroleh. Tidaklah harus saling menyingkirkan satu sama lain, hasil sekularisme ini membuat kita enggan mempelajari ilmu agama. Atau beberapa kalangan umat muslim yang katanya ingin menjadi muslim sejati yang sama enggan mempelajari ilmu umum. Tidakkah kita sadar? bukakanlah pikiran kita, tetapi janganlah terlalu gegabah mengabaikan ilmu agama kita. 
Sekali lagi dilematika yang terjadi antara ilmu umum dan ilmu agama tidaklah harus diperpanjang. Orang yang selalu mementingkan ilmu pengetahuan umumnya, yang mempelajari karya-karya besar orang Barat misalnya, yang mempelajari algoritma, fisika, kimia, hendaklah mau mempelajari ilmu agama. Begitu pula sebaliknya. Kaum-kaum islam yang statis yang tidak mau mengenal ilmu umum karena dianggap bid'ah? atau kafir mungkin harus membuang jauh-jauh prasangka itu. Mengapa demikian? oh betapa naifnya orang tersebut. Sudah saya paparkan diatas ulama-ulama besar yang juga tetap mempelajari ilmu umum yang darisana akan menambah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.


Salam sejahtera
Al-Faqir ibn al-faqir

Saya Sarankan Anda Baca Juga



Tidak ada komentar:

Posting Komentar