Selasa, 05 Agustus 2014

Sajak Harapan dan Pembuktian

Senyum hangatku pada dunia.
Menghantam kalbu para cecurut durjana.
Mereka tertawa, mengejek, dan menghina.
Tapi aku tau bahwa diamlah yang membuat tawa mereda.

Biar saja kalian tertawa sepuasnya.
Tertawa sebusuknya yang kalian bisa.
Yang jelas itu tak akan membuatku meregang nyawa!

Bagiku Tawa kalian ibarat sebuah seruan.
Yang membuat darah mudaku bergejolak.
Menantang gahar sendirian.
Sampai Tak ada keraguan tuk bertolak.

Akan kubuktikan!

Akan ku persembahkan!
Sebuah prestasi dari budi pekerti!
Yang akan tetap hidup walau aku telah mati.

Akan kubungkam mulut-mulut Durjana.
Yang menganga hanya mengenal riuhnya suara tawa.
Akan kubuktikan kepada kalian sebuah realita.
Yang bukan lagi sekedar bualan dan wacana.

Sebuah Realita yang terbangun atas dasar doa, usaha dan harapan.
Sebuah realita yang dulu hanya berupa imajinasi atau khayalan.
Lihatlah! Semua itu sebentar lagi akan ku wujudkan.

Aku hidup atas mauku.
Atas segala minatku.
Dengan semua resahku.
Bukan karena mereka, atau pun kamu!

Segala Kekurangan selalu menjadi bahan cercaan.
Hingga menimbulkan kata penghinaan.
Bertubi-tubi! hingga nenjadi sebuah kebiasaan.
Sampai tak jarang, orang asing memakainya sebagai rujukkan.

Aku mau menghapus semua kesesatan itu.
Akan kubalikan anggapan itu dengan indah dan menawan.
Hingga pada akhirnya semua mulut akan terkunci rapat.
Terhunus sebuah prestasi yang lahir dari sejuta cercaan.

Kubuktikan!
Kalian Tunggulah!
Kubuktikan!
Kalian Enyahlah!

Author: Yusuf Abdul Rahman

Saya Sarankan Anda Baca Juga



Tidak ada komentar:

Posting Komentar