Senin, 04 Agustus 2014

Mahasiswa yang Berjiwa Santri

Ada beberapa permasalahan dari kajian kita sekarang ini. Ya, para pencari ilmu, kita sudah mengetahuinya, ada yang memang fokus mengkaji ilmu agama seperti sering kita sebut santri. Dan ada pula yang fokus di bidang pengetahuan umumnya dan seringkali mengungkapkan sebuah istilah bahwa santri itu kolot. Disekolah disebut siswa atau pelajar, dan di perguruan tinggi disebut Mahasiswa.
Sebenarnya siapa yang salah? Santri yang emoh mengenyam pendidikan akademis ataukah para Mahasiswa yang gila ilmu umum dan melupakan ilmu agama? Ya, saya adalah salah satu mahasiswa di Universitas Islam Negeri. Mayoritas para mahasiswa disini biasanya jebolan pondok pesantren, ya termasuk saya. Saya adalah santri yang sudi melanjutkan pendidikan saya pada salah satu perguruan tinggi. Walaupun tidak menutup kemungkinan adanya mahasiswa dari latar belakang sekolah-sekolah umum.


Kali ini saya tidak akan mengkritik dengan hanya mengandalkan logika saja, tapi saya akan mencoba memakai ayat Al-Qur'an yang berbunyi, 
“Yarfa’illahulladzina amanu minkum walladzinaa uutul ‘ilma darajat”

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu (agama) beberapa derajat.” (Al-Mujaadilah:11)

Disini jelas sekali bahwa orang yang mencari ilmu itu derajatnya sangat mulia. Ya, jelas sekali ilmu itu tidak bisa kita persempit menjadi ilmu umum atau ilmu agama saja. Semua keduanya sama-sama ilmu. Dan titik tekan dari orang yang berilmu bukan saja hanya sekedar hebat dalam masalah ilmu agama saja. Titik tekan yan ingin saya kupas adalah orang berilmu sejatinya haruslah orang yang mendatangkan manfaat kepada sesamanya. (Khairunnas anfauhum linnas). Maka tidak ada perbedaan mencolok dari Mahasiswa dan Santri.
Justru sebaliknya menjadi Mahasiswa yang berjiwa santri. Lalu seperti apa mahasiswa yang berjiwa santri itu? ya orang yang memberi manfaat kepada sesamanya dan mengamalkan ilmu yang sudah diperolehnya. Berilmu bukan sekedar berilmu tetapi dibarengi dengan pengamalannya.


Salam
Al-Faqir ibn al-faqir

Saya Sarankan Anda Baca Juga



Tidak ada komentar:

Posting Komentar